Cegah Hoax Kalangan Millenial Yang Ada di Wilayah Pule

oleh

Polres Trenggalek – patroli dialogis yang dipimpin Bawas Polsek Pule Polres Trenggalek Aiptu Sofyan dan personel jaga Aiptu marjani beserta anggota reskrim Bripka Arif Tri Wahyanto, S. H., disimpang lima kasrepan ( silika), desa Jombok pada Selasa malam ( 06/08 ). Perlunya masyarakat dalam mengantisipasi bahaya pemberitaan yang tidak benar melalui media sosial adanya sosialisasi yang benar mengenai cara-cara menerima kabar yang di terima melalui media sosial.

 

penyampaian mengenai berita hoax sedikit demi sedikit di bahas tadi malam dalam obrolan santai. Melihat fenomena yang pernah muncul sebelum kelompok saracen di ungkap Polisi serangan hoax bisa lebih muram sampaknya publik jadi bingung mana informasi yang benar, mana yang palsu dan sarat fitnah. Ujungnya persatuan dan kohesivitas publik bisa pecah berkeping-keping.

“Hoax (atau informasi palsu yang tidak berbasis data atau fakta yang akurat, dan kadang juga memuat elemen fitnah didalamnya), ” jelas Kanit Sabhara Polsek Pule Polres Trenggalek Aiptu Sofpyan.

Lebih lanjut disampaikanya, di era ledakan digital ini adalah betapa mudahnya hoax atau informasi palsu menyebar karena ledakan pengguna social media seperti Facebook dan Whats App. Dalam konteks itu, media seperti Facebook dan Grup2 WA berubah menjadi “medium amplifikasi” untuk menyebarkan berita-berita hoax secara masif, dan acap sukses menjadi viral yang gemilang.

Kenapa berita hoax mudah menyebar dalam cyber space kita? Pertanyaan itu akan terjawab mungkin karena daya literasi masyarakat kita yang masih buruk. Peringkat minat membaca buku-buku ilmiah berkualitas negeri ini tergolong paling rendah di dunia, sejajar dengan negara seperti Somalia dan Zimbabwe.

Dalam masyarakat yang malas membaca buku-buku ilmiah, maka berita palsu akan lebih mudah menyebar. Berita hoax acap mengandung unsur sensasional dan elemen negatif.

Nah, penelitian tentang Viral Science menunjukkan sesuatu yang bersifat sensasional dan mengandung elemen negatif plus penuh emosi, memang ternyata lebih mudah menyebar jadi viral – dibanding berita yang bersifat netral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *