Begini Harapan Kapolsek Dongko Saat Hadir Dipentas Wayang Kulit Gebyar Suro

oleh

Polres Trenggalek – Pada pelaksanaannya akar peradaban pada nilai tradisi dalam budaya, menjadi hal yang jauh lebih penting, dan disitu ada ajaran agama yang bisa lebih diterima oleh masyarakat, karena disana ada satu fikiran pokok yang fokus pada penyebaran ajaran tentang keyakinan dan pengamalan kebaikan yang berlaku secara berjenjang dari nilai tradisi yang lestari.

Seperti pada contoh ketika penyebaran agama islam yang dilakukan oleh zaman Wali Songo di bumi nusantara. Dengan bumbu seni budaya bisa disisipkan dan memasukkan ajaran agama islam yang rahmatan lil alamin.

Mengilhami daripada tersebut diatas, dalam rangka menyambut tahun baru Islam yakni 1 Muharam 1441 H sekaligus peringatan bulan Suro tahun 1953 Saka atau tahun 2019 M ini, para pegiat seni budaya yang didukung Muspika Dongko dan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Dongko, menggelar acara bertajuk gebyar suro Kecamatan Dongko dengan tema “Milenialisasi Budaya, Upacara Adat Ngetung Batih,” yang dilanjutkan dengan berbagai macam penampilan seni dari kearifan budaya bertempat di lapangan Kecamatan Dongko.

Dari rangkaian kegiatan gebyar suro itu, tadi malam (1/9) telah dilaksanakan pementasan atau pagelaran seni wayang kulit semalam suntuk oleh dalang yang didatangkan dari Provinsi D.I.Y.

Dengan adanya kegiatan tersebut rupanya mengundang banyak kalangan pandemen seni dan budaya wayang kulit di Kecamatan Dongko untuk datang, tak terkecuali Kapolsek Dongko AKP Tri Basuki,S.H., juga ikut hadir
secara langsung menyaksikan dari pagelaran.

Terpantau disana Kapolsek Dongko AKP Tri Basuki, S.H., dengan jajaran Muspika Dongko serta tokoh masyarakat sekaligus pengunjung, memadati stand terob yang telah disediakan oleh panitia penyelenggara dan mereka bisa duduk manis bersama sambil menikmati hangatnya suguhan alur cerita dalam pagelaran wayang kulit tersebut.

Ketika ditemui pada Senin (2/9/2019) Kapolsek Dongko AKP Tri Basuki,S.H., mengatakan, kami tadi malam hadir sebagai bentuk dorongan agar semangat gotong royong yang terkandung dari kaidah keragaman budaya bisa lebih tercerna dengan baik oleh masyarakat.

“Ini adalah kaidah dan khazanah kebudayaan di nusantara yang merupakan sarana untuk menopang ajaran dan syiar agama. Dalam hal itu menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama dan juga pemersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika,” ungkap AKP Tri Basuki.

Selain itu dengan seni dan budaya seperti wayang kulit ini ada satu tuntunan dan juga doa yang dinamakan pangruwat dalam hal kebaikan sehingga bisa menciptakan rasa toleransi sekaligus membangun harmoni di antara masyarakat yang beragam, imbuhnya.

Semoga dengan kegiatan dan syiar agama dalam budaya ini harapannya kedepan bisa membawa dampak yang positif dan masyarakat bisa semakin sadar akan kebutuhan kamtibmas, sehingga situasi diwilayah Kecamatan Dongko yang heterogen bisa semakin aman kondusif, pungkas AKP Tri Basuki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *