Cegah Kabar Hoax Melalui Peran Warga Muda

oleh

Polres Trenggalek – Adanya pesta demokrasi Pilgub Jatim sudah berakhir pada puncak kemarin saat pelaksanaan pencoblosan melalui pungut suara yang dilakukan, adanya kerawanan dari pihak tertentu yang memanfaatkan pasca pelaksanaan Pilgub Jatim menjadi topik yang disampaikan salah satu personel Polsek Pule Polres Trenggalek Bripka Saiful terutama adanya informasi yang dilewatkan dunia maya dengan kabar bohongnya, kegiatan dilaksanakan di simpang lima, kasrepan saat dialogis itu pada Jum’at malam ( 29/06 ).

 

Dengan mengarahkan kewaspadaan terhadap anak muda yang mayoritas menggunakan internet, disampaikanya kewaspadaan jangan terprofokasi bila mendapat kabar yang belum dicek kebenaranya terkait permasalahan adanya Pilkada yang baru digelar kemarin.”Serangan hoax dan cyber crime, inilah mungkin dua jenis ancaman yang paling kelam dalam jagat cyber space kita.Cyber crime mungkin lebih berorientasi pada nafsu mengumpulkan uang dalam skala masif dengan jalan yang tidak barokah. Mediumnya adalah melalui jalur maya,” kata personel Polsek Pule Polres Trenggalek saat dialogis.

 

Melihat fenomena yang pernah muncul sebelum kelompok saracen di ungkap Polisi serangan hoax bisa lebih muram sampaknya publik jadi bingung mana informasi yang benar, mana yang palsu dan sarat fitnah. Ujungnya persatuan dan kohesivitas publik bisa pecah berkeping-keping, lanjut personel Polsek Pule Polres Trenggalek.

 

“Hoax (atau informasi palsu yang tidak berbasis data atau fakta yang akurat, dan kadang juga memuat elemen fitnah didalamnya), ” penjelasan personel Polsek Pule Polres Trenggalek.

Lebih lanjut disampaikanya, di era ledakan digital ini adalah betapa mudahnya hoax atau informasi palsu menyebar karena ledakan pengguna social media seperti Facebook dan Whats App. Dalam konteks itu, media seperti Facebook dan Grup2 WA berubah menjadi “medium amplifikasi” untuk menyebarkan berita-berita hoax secara masif, dan acap sukses menjadi viral yang gemilang.

 

Kenapa berita hoax mudah menyebar dalam cyber space kita? Pertanyaan itu akan terjawab mungkin karena daya literasi masyarakat kita yang masih buruk. Peringkat minat membaca buku-buku ilmiah berkualitas negeri ini tergolong paling rendah di dunia, sejajar dengan negara seperti Somalia dan Zimbabwe. Sad but true.

 

Dalam masyarakat yang malas membaca buku-buku ilmiah, maka berita palsu akan lebih mudah menyebar. Berita hoax acap mengandung unsur sensasional dan elemen negatif.

 

Nah, penelitian tentang Viral Science menunjukkan sesuatu yang bersifat sensasional dan mengandung elemen negatif plus penuh emosi, memang ternyata lebih mudah menyebar jadi viral – dibanding berita yang bersifat netral.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *