Waspada Pelaku Teror Tidak di Dunia Nyata Saja

oleh

Polres Trenggalek – Aiptu Joko Nurhadi KSPK Polsek Pule Polres Trenggalek bersama anggota Brigadir Yohan, saat melakukan kegiatan patroli dialogis di Poskamling, dusun Krjan, desa Tanggaran pada Sabtu malam ( 19/05 ). Dalam kegiatan patroli dialogisnya ancaman pelaku teror ada dua jenis yang pertama adanya ancamana teror pelaku melalui media sosial dan yang lebih bahaya dengan melakukan aksi bom bunuh diri.

 

 

Dalam penyampaianya, KSPK Polsek Pule Polres Trenggalek Aiptu Joko mengatakan, ” Tidak semua teroris menjadi eksekutor bom bunuh diri di lapangan. Teroris ada juga yang bekerja di medsos. Ciri-ciri teroris yang bekerja di medsos ciri-cirinya propaganda bahwa kejadian terorisme yang menelan banyak korban tersebut sebagai settingan, drama, atau rekayasa. Ini dilakukan agar masyarakat tidak berisimpati terhadap hilangnya nyawa korban.”

 

Selain itu, mengalih fokuskan berita korban jiwa akibat terorisme dengan berita lain yang tak ada sangkut pautnya. Tujuannya agar masyarakat lupa dengan kekejaman teroris, jelas KSPK Aiptu Joko Nurhadi.

 

Sedangkan pelaku Teroris pengebom bunuh diri dianggap korban konspirasi, sedangkan aparatlah yang menjadi sutradara terorismenya dan mencaci pemerintah dengan istilah-istilah “tak enak” keagamaan. Misal pemerintah dituduh anti islam, thoghut, musuh Allah, pelaku bid’ah, penegak sistem kufur, dan sebagainya. Ini bertujuan membangkitkan aroma kebencian rakyat dengan pemerintah. Padahal akar terorisme adalah kebencian. Ingat, teroris hanya mau membunuh sesuatu yang dibencinya.

 

 

Lebih lanjut dalam mencegah pelaku teror dan ujaran kebencian melalui media sosial supaya bermedsos tanpa harus mengunggah kabar bohong dan menyesatkan, dikarenakan dalam segi hukum keamanan bisa berpengaruh dan dalam aturan hukumnya ancaman pasal bagi pelaku penggunggah kabar hoax cukup berat. Salah satu ancaman hukuman penjaranya lebih dari 5 tahun, selain itu juga kena ancaman satu miliar. Sungguh sangat memberikan efek bagi pelakunya, bermula dari adanya kejadian penyebar kabar dan berita hoax dibeberapa daerah, tentunya diwilayah Pule tidak akan terkena adanya pelaku Hoax, semua harus bijak dalam bermedsos.

 

“Saat ini istilah Medsos sudah tidak asing lagi di telinga kita. Medsos, biasa disebut sebagai Media Sosial. Penggunaan Media Sosial saat ini sedang mewabah. Dari kalangan anak-anak hingga dewasa sudah tidak asing dengan Media Sosial,” kata Aiptu Joko personel Polsek Pule Polres menjelaskan.

 

 

Tidak jarang mereka memiliki tidak hanya satu atau dua akun, tetapi bisa jadi lebih. Dari Facebook, Twitter, Histagram, WhatsApp, BBM dan masih banyak lagi. Banyak orang yang beranggapan bahwa seseorang yang saat ini tidak mengenal Media Sosial dianggap kuno atau ketinggalan.

 

 

Lanjut menurut penyampaianya, Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya sangat aktif dalam mengunakan Media Sosial. Bahkan saat ini bisa dibilang Media Sosial merupakan salah satu gaya hidup masyarakat Indonesia. Sebagian dari masyarakat saat ini lebih disibukkan dengan Media Sosial dibanding bersosialisasi dengan lingkungan sekitar secara langsung. Seringkali dijumpai banyak masyarakat yang kurang bijak dalam menggunakan SosMed.
Ada banyak kasus-kasus muncul di Media Sosial. Dengan akhir-akhir ini muncunya kabar Hoax yang berkembang, melalui beberapa kejadian bohong yang dikabarkan melalui media sosial.